Blusukan Walikota : Membangun Tradisi Menuai Keperdulian
Blusukan Walikota : Membangun Tradisi Menuai Keperdulian

bu nunuk dg abahPada awal ketika Walikota Malang baru saja dilantik, Abah Anton membuat agenda Blusukan kelilng kampung tiap hari minggu pagi sampai dengan siang hari. banyak pejabat mulai dari pejabat pimpinan SKPD, Camat apalagi Lurah disibukkan dengan acara tersebut, berhari-hari kelurahan sibuk mempersiapkan kunjungan keliling kampung dari bapak walikota.

Acaranya dikemas begitu meriah agar jangan sampai mengecewakan Abah Anton panggilan khas dari Bapak Walikota Malang, semua stake holder masyarakat dikondisikan, semua potensi masyarakat dikeluarkan, jadilah acara yang meriah penuh dengan seremonial yang ujung-ujungnya berbuah keluhan dari beberapa aparat kelurahan dan masyarakat yang mengaku menghabiskan banyak anggaran yang tidak terprogramkan. itu adalah cerita masa lalu.

Kalau dicermati Blusukan yang dilakukan oleh Abah Anton setiap 2 minggu sekali tujuannya sangatlah mulia, agar para pejabat di Kota Malang tidak hanya duduk di belakang meja saja, tetapi tahu kondisi riil masyarakat, baik permasalahan maupun potensinya, paham keluhan maupun harapan yang ingin diraihnya. Kalau blusukan di tahap awal Abah Anton sering dilewatkan pada daerah-daerah yang bagus, sekarang justru sebaliknya, Abah dibawa ke daerah yang masih kumuh, daerah yang perlu mendapat prioritas penanganan dari setiap kelahan yang dikunjungi.

Kegiatan Abah sekarang sudah menjadi kebiasaan / tradisi setiap 2 minggu sekali, para pejabat di pemkot Malang sudah terbiasa melihat kondisi kampung kumuh yang perlu mendapat penanganan, sudah terbiasa melihat kondisi masyarakat yang hidup dalam kondisi ketidaknyamanan, berangkat dari kebiasaan tersebut pada ahirnya berbuah menjadi empati dan keperdulian.

Blusukan yang sudah menjadi tradisi sekaligus juga sebagai sarana olah raga keliling kampung di minggu pagi pada ahirnya mengundang banyak stake holder di Kota Malang untuk terlibat, mulai dari pejabat, para pengusaha, kelompok profesional, maupun akademisi, kelompok peduli dan tokoh masyarakat lainnya.

Blusukan mulai menuai hasil, Blusukan mulai ketemu substansinya, seringkali keluhan masyarakat yang dijumpai di sepanjang rute blusukan mendapat jawaban langsung, sepertihalnya Blusukan edisi hari minggu 18 september 2016 di kelurahan kauman kecamatan klojen, ada 2 ibu-ibu yang mengeluhkan rumahnya tidak layak huni yaitu Ibu Sudaiyah Sulastri, yang beralamatkan di JL. Basuki Rahmat Gg VI no 986 RT 04 RW 09 dan satunya lagi Ibu Sumiah, yang beralamat di JL. Basuki Rahmat Gg II Rt 03 Rw 03., langsung menghasilkan komitmen dari para pengusaha yang ikut blusukan untuk diperbaiki. entah sudah berapa puluh rumah yang sudah diperbaiki sebagai hasil dari keperdulian yang muncul dari blusukan.

Ratusan bahkan ribuan orang kaya di Kota Malang yang tidak pernah melihat kondisi riil masyarakat yang tinggal di perkampungan kumuh, mereka yang biasanya hanya tahu wajah Kota Malang dari jalan-jalan protokol yang biasa mereka lewati saja. Blusukan menjadi salah satu sarana mereka bisa tahu kondisi riil kampung kumuh yang ada di Kota Malang. Namun Blusukan saja tidaklah cukup karena tidak semua orang bisa mengakses untuk bisa ikut blusukan. Mungkin perlu ada wisata kampung kumuh khusus bagi mereka yang ingin menyalurkan keperdulian sosialnya bagi masyarakat Kota Malang.

Sudah Saatnya Kota Malang menciptakan ruang agar masyarakat bisa menyalurkan kepeduliannya secara tepat sasaran, selain itu juga harus diciptakan ruang apresiasi bagi mereka yang telah perduli pada kemajuan Kota Malang. Dimulai dari blusukan saatnya ditata ruang-ruang keperdulian bagi masyarakat. Eko Wahyu Widodo

DPUPRPKP Kota Malang

Website Remi Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman = Tiada Henti Membangun Negeri =

Leave a Reply